Pada tahun 1590,  Raja Guru Patimpus Sembiring Pelawi mendirikan Medan di dataran rendah yang subur antara Sungai Deli dan Sungai Babura. Antara akhir abad ke-16 dan abad ke-17 daerah ini menjadi  (medan perang) antara penguasa Aceh dan Deli. Medan hanya sebuah desa kecil hingga abad ke-19. Pada tahun 1823 Jumlah kehidupan hanya 200 orang. Setelah kedatangan Belanda, Medan mulai tumbuh dengan cepat. Pada tahun 1865, Medan menjadi pusat perkebunan tembakau. Pada tahun 1886, Medan  menjadi ibukota dari Sumatera Utara. Pada tahun 1910, sekitar 18.000 orang tinggal dimedan dan sepuluh tahun kemudian berkembang pesat menjadi 45.000 jiwa. Pada akhir pemerintahan Belanda pada tahun 1942,  kehidupan sudah mancapai 80.000 orang. Pada Waktu itu, Kota medan menjadi daerah yang terkaya dan paling produktif Hindia Belanda. Dan sekarang, Hampir 3 juta jiwa yang menempati kota medan.

Kesultanan Deli
Pada abad ke-16,  ada sebuah kerajaan yang disebut Aru, Pada tahun 1612, Aceh terkenal dengan Sultan Iskandar Muda yang mengalahkan Aru. Rakyat Aceh ditunjuk  sebagai perwakilan Raya Sumatera Timur. Pada tahun 1632 Aceh mendirikan Kerajaan Deli dan Tuanku Panglima Gocah menjadi raja pertama. Ia meninggal pada tahun 1669 dan diikuti oleh Marhum Kesawan yang ditempatkan dimedan. Raja ketiga, Tuanku Panglima Padrap, (memerintah 1698-1728) memindahkan kerajaan Pulo Brayan. Raja Kelima, Tuanku Panglima Pasutan, (memerintah antara 1728-1761) pindah kerajaan ke Labuhan Deli. Dia mengatur kerajaan dalam empat suku, masing-masing dipimpin oleh seorang Datuk. Raja kelima, Tuanku Panglima Gandar Wahib, memerintah di periode 1761-1805. Selama waktunya kekuasaan meningkat.

Penguasa keenam adalah Sultan Amaluddin yang memerintah kerajaan siak sejak tahun 1805-1850. Selama Bertahun-tahun, Kerajaan Siak menjadi pengaruh yang kuat di Deli dari Kesultanan Aceh. Raja diberi gelar Sultan. Sultan Osman Perkasa Alam memerintah dari 1850 sampai 1858. Selama kepemimpinannya, Kesultanan deli  menjadi otonom. Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alam (memerintah 1858-1873) memulai hubungannya dengan Belanda, sebuah hubungan yang agak intim. Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah memerintah dari 1873-1924 dan merencanakan memperluas perdagangan tembakau. Ia memindahkan kerajaan ke Medan dan menyelesaikan pembangunan Istana Maimoon pada tahun 1888. Ia juga membangun Masjid Al Mashum pada tahun 1907. Ia dikenal sebagai pembina. Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah (memerintah 1924-1945) membangun pelabuhan dan perdagangan. Pernyataan kemerdekaan Sultan diakui kedaulatan Republik dan diberi imbalan penting sebagai tradisi dan budaya melayu.

Paris Sumatera
Pada tahun 1877, Belanda menciptakan kapal Uap. Namun, Inggris pada saat itu memiliki kapal sebanyak 3000 Unit. Pada tahun 1890, Sabang ( Aceh) menjadi pelabuhan bungker. Dan pada tahun 1923, Belawan menjadi pelabuhan Ekspor yang sangat bergantung pada inggris dan tujuan lain dari pelabuhan belawan dengan pengiriman tembakau deli.

Pada tahun 1912, Para tahanan Membersihkan jalan di Medan. Pada tahun 1917,  otoritas mulai menggunakan kereta kuda yang ditarik, dan dilengkapi dengan sapu untuk pembersihan. Pada tahun 1928, Kereta kuda digantikan dengan kendaraan bermotor. Koran pertama dimedan pada saat itu adalah ‘Deli Courant’, didirikan pada tahun 1885. Pada Tahun 1898 Jerman Berita harian ‘De Sumatera posting’, yang bertahan sampai tahun 1939.