Kleptomania sering disebut-sebut sebagai penyakit yang aneh karena identik dengan mencuri. Ini bukan tindakan kriminal melainkan penyakit. Kok bisa gitu sih? Mari kita bahas.

Penjelasan

Kleptomania merupakan kondisi yang termasuk kedalam kelompok gangguan kendali impulsif, yaitu ketika penderita tidak dapat menahan diri untuk mengutil atau mencuri. Sebagian besar penderita kleptomania adalah perempuan. Biasanya gangguan ini mulai terbentuk di masa remaja atau ada juga yang ketika memasuki usia dewasa. Para penderita kleptomania kerap melakukan aksinya di tempat umum, seperti di warung, toko, dan supermarket. Sebagian ada juga yang mengutil dari rumah teman.

Kleptomania sangat berbeda dengan motif pencurian biasa yang mana memiliki rencana mencari keuntungan yang ada di dalamnya. Untuk kleptomania sendiri, mereka melakukan pencurian tanpa adanya niat dan pada dasarnya didorong oleh psikologis mereka secara spontan. Pada umumnya, para penderita kleptomania mencuri barang-barang yang sepele dan tidak memiliki nilai tinggi. Mereka sebenarnya mampu membeli barang yang dicuri. Penderita kleptomania juga tidak pernah menggunakan barang-barang hasil curiannya. Ada yang hanya dikoleksi dan ada juga yang dibagi-bagikan kepada orang-orang terdekat mereka. Bahkan sebagian penderita kleptomania ada yang mengembalikan barang curian ke tempat semula.

Saat melakukan pencurian, perasaan yang dialami para penderita kleptomania bermacam-macam. Ada yang merasakan ketegangan dan ada juga yang merasa senang. Kemudian perasaan puas ketika mereka berhasil mengambil barang yang tiba-tiba diinginkan. Setelah puas mengambil barang, dapat menimbulkan rasa malu dan rasa bersalah pada diri penderita. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang merasa takut terhadap konsekuensi yang bisa ditimbulkan dari tindakan yang tergolong kriminal tersebut. Meskipun begitu, dorongan untuk mencuri bisa muncul kembali di lain waktu dan penderita akan kembali mengulangi perbuatannya.

Penyebab Kleptomania

Untuk penyebab kleptomania, sampai sejauh ini belum diketahui secara pasti. Kondisi ini diperkirakan terbentuk akibat adanya perubahan komposisi kimia di dalam otak atau hasil dari gabungan perubahan di dalam otak. Contohnya, muncul perilaku impulsif yang terjadi akibat menurunnya kadar serotonin (hormon yang bertugas mengatur emosi). Perilaku impulsif ini mungkin juga terkait dengan ketidakseimbangan sistem opioid otak sehingga keinginan untuk mencuri tidak bisa ditahan.

Selain itu, diperkirakan juga berhubungan dengan gangguan adiksi dimana terjadi pelepasan dopamin yang menjadikan pelaku merasa senang atas perbuatannya dan cenderung untuk ketagihan.
Diperkirakan seseorang yang memiliki riwayat penyakit psikologis lainnya, seperti gangguan kepribadian, gangguan bipolar, dan gangguan kecemasan yang rentan mengalami kleptomania. Risiko untuk menderita kondisi ini juga akan meningkat bagi mereka yang pernah mengalami cedera di kepala dan mereka yang memiliki keturunan penderita kleptomania.

Pengobatan Kleptomania

Kleptomania umumnya ditangani melalui terapi psikologi oleh ahli terkait serta dikombinasikan dengan pemberian obat. Namun, yang lebih penting dalam pengobatan kondisi ini adalah keinginan kuat pasien untuk sembuh dan kesediaanya dalam mengikuti tiap saran yang diberikan oleh dokter. Jika pasien berusaha kuat untuk melawan niat yang timbul dari dalam dirinya, bukan hal yang mustahil jika kleptomania bisa dihilangkan dan tidak kambuh lagi. Selain itu, perlu adanya dukungan dan semangat yang diberikan orang-orang terdekat terhadap kesembuhan pasien.

Jenis terapi yang umumnya diterapkan untuk penanganan kleptomania yaitu terapi perilaku kognitif. Dengan metode ini, pasien akan diberikan gambaran mengenai perbuatan yang dia lakukan, serta akibat yang bisa diterima, seperti berurusan dengan pihak berwajib. Dengan gambaran tersebut, pasien diharapkan bisa menilai secara objektif dan menyadari bahwa pencurian yang dia lakukan merupakan tindakan salah. Selain gambaran diri, pasien juga akan diajarkan untuk melawan atau mengendalikan keinginan kuatnya dalam mencuri, misalnya dengan teknik relaksasi.

Untuk obat-obatan, salah satu yang mungkin akan diresepkan oleh dokter adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI). Dokter juga mungkin akan memberikan obat opioid antagonist. Sama halnya dengan terapi kognitif, pemberian obat ini bertujuan untuk menurunkan niat dan rasa senang yang timbul dari diri penderita kleptomania untuk mencuri. Tidak menutup kemungkinan dokter memberikan obat lain. Misalnya, bilamana dokter mencurigai bahwa kleptomania dipicu oleh gangguan psikologis lainnya, misalnya OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau depresi.

Lalu bagaimana jika pengidap Kleptomania ketahuan mencuri?

Seperti yang diketahui bahwa semua tindak pidana pencurian diatur dalam Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”): “Barang siapa yang mengambil seluruh atau sebagian barang kepunyaan orang lain, dengan tujuan untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima Tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”.

Ketika seseorang tertangkap tangan telah melakukan tindak pidana pencurian, tugas penyidik adalah melengkapi alat bukti guna diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum untuk dilakukan penuntutan. Dalam melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, penyidik juga akan menyelidiki riwayat hidup, termasuk melakukan pemeriksaan kondisi kejiwaan dan kesehatan tersangka. Tersangka pencurian yang diduga mengidap penyakit kleptomania tetap akan diajukan ke Pengadilan dengan di lengkapi keterangan dari Ahli (Psikiater). Di depan sidang pengadilan, ahli akan menjelaskan hasil pemeriksaannya terhadap tersangka berkaitan dengan penyakit “Kleptomania” tersebut. Namun Hakim tentu tidak hanya melihat keterangan dari ahli psikologi saja, alat bukti lain yang telah diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum tentu akan dijadikan pertimbangan oleh Hakim untuk memutuskan. Dalam hal ini tentu ada banyak hal untuk menentukan apakah seorang kleptomania tersebut dapat dipidana atas tindakan pencurian yang dilakukannya. Hakimlah yang akan memutuskan tentang dapat atau tidaknya orang tersebut dimintai pertanggungjawabannya.

Nah itu dia sekilas mengenai kleptomania. Semoga bermanfaat!!!